Kita akan butuh, ketika semuanya hilang

Ini kisah tentang saudaraku, kisah seorang sahabat yang berada disekitar kita. Dia terus tersenyum meskipun sebenarnya kenyataannya tidak seperti yang tampak olehku dan tidak pula seperti yang engkau bayangkan. Terkadang aku iri pada mereka yang punya apa yang diinginkan, dan akupun terkadang marah dan menangis ketika hal yang jadi hasrat tak kunjung terwujud. Sungguh begitu besar nikmat yang kini tlah kurasakan, namun aku tak kunjung sadar dan bersyukur atas semua itu. Maafkan hamba ya Allah…
(QS: Ar-Rahman: 45) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Kini aku tersentak oleh sebuah kenyataan yang terhampar di hadapanku ternyata temanku seorang yatim yang tak punya apapun untuk dibanggakan, tidak pula seorang ibunya yang kini pula tlah tiada. Ia sebatangkara disini bekerja dan belajar dengan segala keterbatasannya. Melihat apa yang terhampar dihadapanku, aku masih lebih bahagia dengan kedua orang tua yang hingga detik ini masih menyayangi dan ada untukku.
(QS: Ar-Rahman: 25) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
lagi, aku terisak ketika suatu malam bersamanya, esok hari ia hendak ikuti ujian akhir semester dengan wajah murung duduk disudut sana. “kenapa wajahmu murung kawan??” sapaku dengan penuh tanya, “ah tak apa, aku gak ada bahan tuk ujian besok. Apa yang harus kujawab untuk soal2 itu?”. “kenapa gak difotocopy aja bahan ujiannya??” tanyaku kembali, dengan menundukkan wajah ia menjawab disertai mata yang berkaca-kaca “makan aja kadang sehari cuma sekali itupun kalo ada yang bisa kumakan dan ada orang baik yang mau bantu hidupku. Tak terasa hati ini terisak “ya Allah, seburuk-buruknya hidupku tak pernah aku rasakan yang seperti ini. Alhamdulillah ya Rahman, terimakasih atas nikmatMu yang tak hingga padaku walaupun aku sering lalai dalam syukuri semua ini”.
(QS: Ar-Rahman: 28) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
sejak kecil, apa yang kuminta, slalu diberikan dengan senyuman indah ayah dan bunda. Meski tak semua, dan tak langsung ketika aku inginkan. Kini kusadar, itu mereka lakukan karena tak ingin aku manja dan malas pada keadaan, mereka tau apa yang terbaik bagiku lebih dari yang aku tau. Ketika seorang anak perempuan tergores oleh sebuah duri kecil, ibunda tak kan bisa tidur dalam malam-malamnya hanya karena rintihan buah hati yang dicintainya. Apakah kita pernah tau kapan kedua orang tua kita menangis dalam kesendiriannya? Apakah kita sudah cukup peduli pada ayah yang jarang ada dirumah hanya untuk sebuah mobil-mobilan yang diinginkan anak laki-lakinya. Kapan terakhir kali kita mendoakan keduanya? Coba kalian renungkan cinta kalian kepadanya seberapa besar…
Terimakasih kuhaturkan pada seorang teman yang tlah membuka pintu hitam di hati ini. Meskipun malam ini titik bening mengalir lintasi pipiku, namun ingin kupeluk mereka saat ini juga. Aku sungguh merindukan mereka, tak ingin keduanya pergi sebelum yang mereka inginkan dapat benar-benar kuberi…
mereka tak pernah menuntut harta untuknya, namun harta untuk aku dan masa depanku, Ilmu untuk senjata aku menembus masa depan yang kian menantang, semua itu bukan untuk mereka, tapi untukku…
maafkan aku ibu karena belum dapat membahagiakanmu
I love u mom and dad…
miss u………..

4 thoughts on “Kita akan butuh, ketika semuanya hilang

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s