Wajahku gak seseram tampang teroris

Beberapa hari yang lalu aku bersama Amsir ditugaskan oleh ketua himpunan fisika untuk mengajukan proposal permohonan dana untuk keberangkatan mahasiswa fisika ke Yogyakarta mengikuti Musyawarah Nasional (MUNAS) Ikatan Himpunan Mahasiswa Fisika Indonesia (IHAMAFI) yang berlangsung di kampus FMIPA UGM.
Bagini ceritanya…
Hari selasa adalah hari yang aman untuk memakai baju kaos menuju ke kampus, karena dosennya aman terkendali, dan karena hal itupun aku memilih memakai baju kaos pada hari itu. Pagi-pagi ke kampus rencananya mau ngenet sepuasnya sebelum masuk kuliah pada jam 14:00 yang membuat aku sering melamun di ruang kelas, ngantuk dan menguap-nguap serta tak jarang aku lebih memilih facebookan pake HP daripada mendengar ocehan mahasiswa yang lagi presentasi.
Setibanya di kampus, Amsir sibuk mengajakku untuk mengecek tu proposal yang telah kami ajukan beberapa hari lalu. “Ya sudahlah, ayo kita pigi…” mulailah aku gak mud di hari selasa yang cerah itu. Kalau saja saat itu aku punya pesawat jet [ngayal], maka aku akan terbang dengan cepat ke kantor DISHUBKOMINTEL (dinas perhubungan, komunikasi, informasi dan telematika) dan kantor Walikota Banda Aceh yang sangat membosankan itu.
Karena kami pergi dengan menggunakan sepeda motorku [supra x 125], dengan cepat aku kebut-kebutan di jalan. Tak lama kemudian sampailah kami di sasaran yang pertama [dishubkomintel], setelah meletakkan motor di tempat parkir yang gak seberapa itu [cukop semak: red] aku bersama Amsir masuk bersamaan. Aku lebih tinggi dari Amsir, maka aku harus jalan di depan dan dengan tergesa-gesa aku masuk ke kantor menuju tangga lantai 2. Biasanya kami begitu masuk langsung naik tangga, tapi kali ini ada suara sumbang yang manggil-manggil dari belakang pintu. “dek…dek…mau kemana??” aku gak open, “alah ntah suara apa jelek kali manggil-manggil” ucapku dalam hati. “woiii sini dulu…” volume suaranya agak dinaikkan, mungkin dikira kami budeg kali ya…Amsir yang jalan di belakang menoleh dan melihat pak satpol PP “kami mahasiswa pak!!” Amsir yang jawab. “sini dulu isi buku tamunya baru boleh masuk” kata pak satpol PP yang satu dengan satunya lagi asik nonton TV. “zak, kita disuruh isi buku tamunya dulu” ucap Amsir sambil menahan langkahku. Aku menoleh dan mengisi buku tamu itu, dalam hati aku bertanya ”emangnya ni pak satpol PP bisa baca apa tulisanku yang seperti huruf kanji?” alah open kali, lalu kami dikasih bet tanda pengenal yang bertuliskan “TAMU”. “makasih pak” ucapku dengan agak sinis n sok dikit. Betnya gak bagus jadi aku gak pake, Cuma pegang aja. Setelah nanya suratnya ke bagian Umum, katanya proposal kalian belom nyampe, ntar beberapa hari lagi balik lagi [kebiasaan dinas suka suruh balik-balik]. Turun tangga hendak keluar dari kantor itu darahku mulai mendidih, panas terasa sampai ke ujung rambut [hiperbola].
Target pertama selesai tanpa hasil, yang ada hanya darah tinggiku naik. Menuju kantor walikota banda aceh, dekat taman sari aku kebut-kebutan lagi biar cepat sampe. Setelah parkir, aku langsung masuk dengan gayaku yang krasak-krusuk gak liat kiri-kanan. Depan kantor walikota telah menanti bapak polisi dan beberapa pak satpol PP [penjagaan disini lebih lengkap]. Aku langsung masuk dan seperti biasa Amsir mengikutiku dari belakang, lagi-lagi pak polisi panggil-panggil “mau kemana kalian?” Amsir masih dengan jawaban yang sama “kami mahasiswa pak, mau ngecek surat” tapi bapak polisi masih ngotot kagak percaya, dia tanya lagi “mau ngecek surat kemana emang?” “disitu pak..” jawabku sambil menunjuk ruang surat dengan emosi yang lebih panas. Dalam hati aku bertanya “apa tampangku seperti teroris kali ya.. kok pihak keamanan pada kagak percaya gitu?” emang sih udah beberapa hari aku gak cukur jambang, kalo anak-anak yang liat biasanya sih nangis. Tapi apa seseram itukah tampangku?
Beberapa hari kemudian aku kembali untuk mengecek ulang proposal kami. Kali ini aku pergi sendiri dengan menggunakan baju batik berwarna merah dan celana kain warna hitam, serta tidak lupa cukur jambang. Setibanya di kedua kantor tersebut ternyata aman-aman saja, gak ada tu yang namanya isi buku tamu dan interogasi apa-apa. pelajaran yang aku dapat di hari itu adalah “lain kali kalo mau ke kantor-kantor yang ada petugas keamanannya aku mesti dan kudu pake tu yang namanya batik, n kalo perlu lebih aman lagi harusnya aku pake baju adat Aceh aja biar aman dan gak disangka ada bom dalam tas ranselku, trus juga jangan sampe lupa jambang dicukur.”
Setelah kejadian ini aku sedikit trauma dan langsung mengganti photo profilku di FB dengan foto adik sepupuku [dek ekal] yang lucu dan imut-imut itu dan kalo teman-temanku tanya, ya aku jawab aja itu fotoku waktu masih kecil, imut-imut kan?? Walau gak ada yang percaya pada foto itu. Hahahaa….

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s