Apalah arti sebuah nama, namun sangat bermakna

Ini mungkin adat istiadat atau kebiasaan, anak pertama sebisanya diusahakan lahir di desa tanah kelahiran kedua orang tuanya. Pada subuh hari jum’at tepatnya 9 Rabiul Akhir 1409 H atau 18 November 1988 M di sebuah desa yang bernama Blang Cut masih dalam kawasan kecamatan Peusangan, pada saat itu Matang Gelumpang Dua masih berada dalam satuan kekuasaan kabupaten Aceh Utara adalah kali pertama aku melihat dunia dan menangis sekencang-kencangnya. Akibat dari pemekaran wilayah, Matang Gelumpang Dua pun sekarang menjadi hak wilayah Kabupaten Bireuen. Seperti layaknya orang tua yang lain begitu melihat anak pertamanya lahir, mereka akan disibukkan dengan berbagai persiapan untuk bayi yang baru saja melihat dunia ini, mulai dari pakaian, hingga nama. Ya, nama yang sangat penting dan akan menjadi identitasnya seumur hidup. Mengandung sarat makna dan doa. Walau banyak orang mengatakan apalah arti sebuah nama? Namun begitu bermakna. Dan namaku adalah Zakiul Fuady yang dalam bahasa Arab artinya “Buah Hatiku Yang Cerdas”. A nice name, apa ntar Aku bisa ngasih nama untuk anak-anakku seindah nama yang pernah diberikan oleh kedua orang tuaku???

Ibuku sejak tahun 1986 sudah mengabdikan dirinya sebagai seorang guru agama pada sebuah sekolah [SMPN 4 Langsa]. Cukup lama untuk sebuah profesi guru yang banyak memiliki murid ntah dimana-mana. Ibuku terkenang pada seorang muridnya yang rajin, pintar, cerdas dan baik hati. Zaki Fuad namanya, konon ceritanya namaku terinspirasi pada nama murid ibuku itu. Tapi sayangnya bila teman-temanku mendengarkan kisah ini mereka pasti akan berkata “kok beda ma qe zaki? Inspirasinya baik hati, cerdas, rajin dan pinter. Nah qe kok kebalikannya?” uhhh….

Waktu terus berganti detik, menit, jam, hari dan minggu hingga bulan ketiga barulah kedua orang tuaku membawaku ke taman kehidupanku di Kota Langsa. Sejak saat itu mulainya Aku berpijak di tanah timur Aceh.

Fuad

Nama ini menjadi panggilanku sejak Aku lahir dan panggilan ini biasanya digunakan di rumah, oleh kedua orang tuaku dan keluarga besarku serta mereka yang mengenalku dari rumah sejak Aku kecil. Selama Aku belajar di Madrasah Ibtidaiyah [setara dengan SD], panggilan ini masih digunakan oleh guru dan teman-temanku.

Zakiul

Setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah, Aku melanjutkan studi ke Madrasah Tsanawiyah [setara dengan SMP]. Pada saat itu Buk Erda [guru bahasa Indonesia] memberikan tugas untuk membuat surat dan dibacakan di depan kelas. Karena masih kelas satu setiap siswa harus memperkenalkan diri satu persatu. “nama saya Zakiul Fuady, saya lulusan Madrasah Ibtidaiyah Kampung Mutia, saya tinggal di Matang Seulimeng. ”jadi Ibuk panggil kamu apa?” berfikir sejenak ”apa aja deh buk…” “kek mana kamu ini, kamu yang punya nama kok terserah ibuk…” [sambil geleng-geleng si Ibuk anggap Aku anak yang aneh] ”ya udah, ibuk panggil aja kamu Zakiul ya…” “boleh juga buk, gak apa-apa” dalam diam Aku berfikir, bagus juga panggilanku beda, jadi kalo Aku bandel gak ada yang tau..hahaaaa kalo guru ngadu sama Ayah kan kagak nyambung cerita si ibuk.. hohohohoo

Zaki

Kini Aku pun melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah Negeri No. 2 Langsa [setara dengan SMA]. Disini nama panggilanku masih sama seperti waktu Aku masih sekolah di Madrasah Tsanawiyah. Namun tidak bertahan lama, teman-temanku bilang kalo namaku bagus dan gak cocok aja di telinga kalo Cuma dipanggil “Zakiul”. Kemudian mereka memanggilku dengan nama Zaki [cerdas: arabian]. Panggilan inilah yang kemudian dikenal luas teman-temanku hingga kini. Namun sebagian dari mereka memanggilku dengan panggilan Jek, katanya biar keren. Whateverlah..selama panggilan mereka itu tidak keluar dari makna dasar namaku. Karena pemberian sebuah nama bukan hal yang kebetulan, dan itulah hadiah pertama dari kedua orang tuaku hingga Aku mati dan dikenang ya dengan sebuah nama.

Antara Zaki dan Fuad

Pernah suatu hari celakalah temanku Reza yang datang ke rumah, dia kenal ibuku dan juga keluargaku lainnya karena kakak dan adiknya Reza adalah murid ibuku. “buk, ada Zaki di rumah?” tanya Reza, ibuku sore itu lagi asik nyiram bunga di halaman depan “gak ada nak..emang si Zaki tu katanya tinggal di sekitar sini ya??” jawab ibuku. Wajah Reza udah agak aneh, Aku mendengar percakapan itu dan ngintip dari jendela sambil nahan ketawa. “iya buk, dia sekolah di MAN 2” Reza coba menjelaskan “anak ibu juga sekolah di MAN 2, tapi namanya bukan Zaki”. Karena udah gak sanggup lagi ketawa gara-gara liat mukanya Reza yang udah kayak gimana gitu, akhirnya Aku keluar. “sorry ja, Aku lupa bilang [sambil nahan ketawa] tapi laen kali udah tau kan kalo ke rumah nyarinya si Fuad, bukan Zaki.” Emang sih saat itu Reza palak abis…tapi Aku gak sanggup nahan ketawa…bisa jadi pengalaman berharga bagi siapa yang mau nyari Aku ke rumah atau ke luar rumah. Ada namanya masing-masing. Hahahaa……….

eLzacky

Diakhir tahun 2007 mulailah Aku berkenalan dengan dunia maya, hari-hariku udah mulai disibukkan dengan update status dan post comment pada jejaring pertemanan Friendster [waktu itu Aku belom kenal Facebook]. Awalnya biasa saja, namun lalu Aku berfikir jika namaku di dunia maya adalah nama asliku, bisa bahaya nantinya. Lebih baik Aku buat nama samaran yang bisa mencerminkan bahwa itu Aku.

Saat itu Aku tergila-gila pada karya besarnya Habiburrahman Elsirazy, dengan novel Ayat-Ayat Cinta yang ditulisnya membuat Aku memandang kehidupan dari sisi yang berbeda.Mencari dan terus mencari, Taufiq [kuliah di Al-Azhar University, Mesir] akhirnya online juga via YM. Lama kami tidak berjumpa dan kalo mau sms dia ya Cuma buang-buang pulsa aja ya kan? “fiq, punya friendster?” “ya punyalah” jawabnya “apa alamatnya?” “elhady@…[aku lupa emailnya]” “gaya kali qe baru beberapa bulan di negeri fir’aun udah pake ‘el’ meunan di nama qe?” candaku padanya.

Tak lama kemudian Aku mulai berfikir, kalo Aku buat nama untuk dunia maya ku, nama itu gak boleh keluar makna atau berbeda dengan makna dasar nama pemberian kedua orang tuaku. Zakiul Elfuady, “tapi ah gak cocok” kurang maknyus kedengarannya. Lalau kita coba nama depan. eLzacky Fuady, “untuk nama pena ini terlalu panjang”. Patahkan saja depannya jadi eLzacky yang memiliki arti kecerdasan. Terkadang Aku memang cerdas.hahaiii…

Sejak saat itu nama ini cukup laku di pasaran dunia maya, dari mulai email, blog dan username nama ini yang Aku pakai. Itulah nama-namaku, meskipun Aku mengubahnya, tidak akan keluar jalur dengan menghilangkan makna dasarnya yang indah…

Nama begitu berharga, berarti, dan dikenang

6 thoughts on “Apalah arti sebuah nama, namun sangat bermakna

  1. nah, kalo apalah arti sebuah nama tp sangat berharga brarti gak boleh panggil nama org sembarangan bang… sejelek2 nama orang tu adlh nama pemberian ortu kita :p
    jangan panggil mutidutdutneng blablabla makanyaa

    1. ahahhahhaaaa……

      yang bermakna itu kan nama abg. bukan nama muti….

      berarti boleh dunk panggil mutidutdutneng :p

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s