Peneliti, terasing di negeri sendiri

Beberapa hari terakhir, pembicaraan tentang profesi peneliti dan kesejahteraannya marak diberitakan di berbagai media baik cetak maupun elektronik.

Beberapa waktu lalu, ketika marak perseteruan dengan Malaysia karena kasus penanahan DKP profesi Peneliti ini terbawa-bawa sampai ke negeri jiran. Pada waktu itu, diungkapkan banyaknya peneliti yang hengkang ke Malaysia karena permasalahan tidak ada penghargaan yang layak alias gaji yang minim di Indonesia.

Selain itu, baru-baru ini Angelina Sondakh anggota DPR dari Partai Demokrat bersedih karena banyak peneliti kita yang lari ke Malaysia, dan lagi-lagi negeri jiran ini dibawa-bawa terhadap permasalahan dalam negeri Peneliti Indonesia.

Kesejahteraan

Kegelisahan akan penghargaan terhadap profesi peneliti diungkapkan oleh peneliti LIPI, Dr. Asvi Warman Adam dalam artikel “Negara dan Nasib Peneliti” yang gelisah karena minimnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan peneliti. Beliau mengungkapan, kenaikan tunjangan fungsional peneliti praktis tidak mengalami kenaikan selama hampir 27 tahun.

Dalam kurun waktu 27 tahun, tunjangan fungsional Peneliti untuk setingkat Ahli Peneliti Utama hanya naik Rp. 500.000 menjadi Rp. 1.400.000 perbulan demikian yang diungkapkan Pak Asvi dalam Opini-nya di Kompas beberapa waktu lalu.

Dapat dibayangkan, berapa tunjangan peneliti bagi jenjang Peneliti Pertama. Kebetulan saat ini, saya sendiri telah mencapai jenjang Peneliti Muda dengan golongan IIIc yang setiap bulan diberi tunjangan sebesar Rp. 700.000 perbulan atau separuh dari tunjangan APU. Sungguh sangat ironis jika dibandingkan dengan resiko profesi peneliti seperti kami yang kadang bergelut dengan maut.

Kemudian, Media Indonesia (17/09/2010) memuat artikel yang kembali menyinggung tentang NASIB peneliti dengan judul yang cukup ironis “Nasib Peneliti di Ujung Tanduk” dimana dalam tulisan tersebut dipaparkan perbandinga gaji seorang profesor riset yang telah bekerja selama 38 tahun dan proffesor di universitas yang perbedaanya hampir separuh lebih.

Belum lagi jika, sekali lagi, dibandinkan dengan negera sebelah, gaji periset Indonsia hanya seperempat dari gaji Pak Cik disana.

Pak Asvi dan Media Indonesia, sama-sama mempertanyakan janji Presiden SBY yang pernah beberapa kali dilontarkan untuk lebih memperhatikan kesejahteraan peneliti. Namun nampaknya itu semua tetap hanya menjadi citra bagi SBY yang tidak pernah sampai ke kami-kami ini peneliti.

Tidak melulu materi

Pak Rovicky, dalam Blog Dongeng Geologi nya memandang risih terhadap pemberitaan tentang kesedihan Angelina Sondakh melihat banyak peneliti yang “lari” ke negeri tetangga untuk mengejar materi. Beliau memandang bahwa “Peneliti bukan pengejar materi” namun peneliti lebih pada mengejar aktualisasi diri. Beliau juga berpendapat masih banyak pejabat dan masyarakat yang hanya memikirkan materi.

Pak Rovicky juga menekankan bahwa peneliti utamanya hanya mengejar aktualisasi diri sehingga penghargaan terhadap karya-karyanya tersebutlah yang menjadi hal terpenting.

Saya sepakat dengan pendapat ini, peneliti memang tidak melulu mengejar materi. Saya sendiri menikmati menjadi peneliti karena ada banyak hal yang tidak bisa dinikmati teman-teman di lembaga lain. Di kantor saya, Pusat Penelitian Biologi LIPI, saya mendapat banyak hal seperti salah satunya kepuasan untuk melakukan hal yang disenangi. Sehinggak kita bisa bekerja dengan senang karena saya benar-benar menikmati pekerjaan ini yang mungkin bagi sebagian orang dipandang aneh.

Selain itu, hampir setahun tiga kali kami dan peneliti lain berkesempatan berkunjung ke pelosok negeri yang mungkin orang lain harus merogoh kocek dalam-dalam dan hanya bisa dinikmati melalui foto-foto.

Kita berkesempatan menyusuri sungai-sungai yang ganas di pedalalaman Kalimantan. Menyusuri dan mengunjungi desa-desa terujung di hulu sungai Barita yang tidak banyak diketahui orang.

Kita bisa menikmati perjalanan ke luar negeri hanya berbekal 300-500 kata yang berisi ringkasan hasil penelitian yang dipresentasikan di pertemuan internasional. Namun tidak semua peneliti beruntung bisa menikmati jalan-jalan gratis keliling Eropa. Masih banyak peneliti yang berjibaku mencari dana hanya untuk menghadiri pertemuan internasional yang biaya pendftarannya mencekik leher.

Pemerintah tidak banyak memberikan dukungan untuk itu. Akhir-akhir ini, Kementrian Ristek mulai memberikan insentif bagi peneliti yang mau mempresentasikan penelitiannya di luar negeri meskipun dana itu hanya cukup untuk bertahan hidup di negeri orang. Sementara transportasi masih harus mengemis kesana kemari untuk hanya mendapatkan tiket pesawat yang terkadang tidak mudah untuk diperoleh.

Namun, itu semua lah yang menjadi kebahagiaan non materi yang bisa saya nikmati selama hampir tujuh tahun menjadi peneliti.

Tidak ada ruang

Kembali menyinggung tulisan Pak Rovicky, peneliti hanya mengejar aktualisasi diri. Hal ini memang benar seratus persen, penghargaan dan memberikan tempat bagi hasil penelitian para peneliti Indonesia adalah hal yang utama.

Kecenderungan *luar negeri* minded masihkental ditemui di berbagai tempat, pemerintahan bahkan media sekalipun.

Peneliti kita masih minim didengarkan untuk membantu membuat kebijakan pemerintah. Kebijaka yang mempunyai “alasan ilmiah” dari peneliti negeri sendiri masih belum banyak ditemui.

Hasil-hasil temuan pun masih terasing di negeri sendiri. Inovasi-inovasi yang menembus batas ketersediaan dana kadang masih teronggok di bengkel-bengkel ataupun rak-rak perpustakaan di lembaga penelitian. Inovasi ini tidak pernah tersentuh oleh industri-industi dalam negeri yang lebih memilih produk-produk pasokan dari luar negeri.

Peneliti kita belum mendapatkan ruang untuk mengaktualisasikan diri.

Media cetak maupun elektronik lebih banyak memberikan tempat bagi temuan-temuan dari luar negeri. Sementara temuan-temuan, gagasan maupun inovasi peneliti negeri sendiri tidak mendapatkan kolom yang memadai di rubrik-rubrik iptek.

Promosi tentang potensi biodiversitas negeri sendiri masih terbatas dengan jumlah kolom-kolom yang harus diakomodasi redaksi.

Sehingga, semakin jauhlah peneliti negeri ini dari hiruk pikuk berita-berita politik yang menjengkelkan dan menenggelamkan prestasi peneliti Indonesia.

Namun, apakah itu melulu kesalahan media yang tidak memberi tempat bagi temuan dan prestasi peneliti Indonesia?

Membuka diri

Mungkin peneliti juga perlu melihat kedalam dirinya, sejauh mana kita menggunakan ruang yang ada untuk aktualisasi diri sehingga orang bisa “melihat dan mendengar” hasil temuan dan prestasi kita sebagai peneliti.

Jangan sampai peneliti hanya terkungkung dan terbelenggu di lingkaran “masyarakat ilmiahnya” samentara masyarakat awam kesulitan menjangkau hanya untuk sekedar ingin mengetahui yang mungkin sesuatu hal yang biasa namun luar biasa bagi masyarakat.

Membuka diri dan bersosialisasi mungkin itu yang paling penting, jangan hanya puas dengan berkutat di sempitnya laboratorium, terselip dionggokan jurnal-jurnal ilmiah yang susah dimengerti dan berbangga ketika temuannya dipublikasi di jurnal dengan “impact factor” tinggi.

Namun berbanggalah ketika masyarakat tahu apa yang telah kita capai sebagai peneliti dan apa yang kita hasilkan meskipun itu hal-hal yang biasa bagi kita.

Semoga, dengan membuka diri dan menyuarakan diri… apa yang peneliti kerjakan akan dilihat dan didengar masyarakat umum..

Maju terus peneliti Indonesia..!!

***********

Cahyo Rahmadi

Peneliti Muda di Puslit Biologi LIPI

One thought on “Peneliti, terasing di negeri sendiri

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s