Petualangan di Tarutung

Minggu, yang mengingatkan aku pada hari minggu di pertengahan bulan desember tahun lalu. Ini hari penerbangan pertamaku, hari pertama aku naik pesawat hahaha (sangat terkenang sesuatu yang dilakukan pertama kali *tsaaaah..). Seperti biasa, tiap hari minggu pagi aku nonton tv dengan film favoritku “doraemon”, sesekali aku mengakses facebook untuk berkomunikasi dengan teman-temanku, mungkin ada yang menyapa. Dan sangat mengherankan ketika aku melihat ada sebuah pesan masuk ke akun facebookku yang berasal dari akun seorang dosen “zaki, mau ikut kerja lapangan?” yang aku tau beliau sedang menempuh studi S3 nya di Jerman. Tentunya ini peluang yang bagus untuk aku melihat-lihat penelitian seorang kandidat Ph.D. Tak lama kemudian beliau menelponku dan meminta aku untuk terbang ke medan dan harus tiba di sana dua jam lagi. Ini bisa dibilang berita baik dan juga bisa dikatagorikan mimpi buruk. Karena emang aku lagi gak ada uang sepeserpun. Jangankan untuk beli tiket pesawat, makan besok pagi aja belom jelas gimana. Beruntungnya aku karena pagi itu ayah tiba di Banda Aceh untuk tugas dari kantor, jadi ada supply keuangan sedikit.

Kemudian aku ditelpon lagi “tiketnya sudah saya pesan sama teman saya, nomor bookingnya nanti saya sms. Berangkatnya jam 16:45 ya zaki”. Gak ada jawaban yang bisa kujawab selain oke. Kemudian barulah aku bingung, gimana cara naik pesawat. Hahaha…Langsung aku menuju ke bandara pada jam 11 pagi itu untuk ngecek tiket pesawat Garuda Indonesia kelas ekonomi.

 

First flight

Setelah berkemas-kemas, sorenya sekitar jam 3 siang aku menuju bandara Sultan Iskandar Muda, sampe di bandara langsung check in dan ambil nomor bangku. Trus ada kakak-kakak yang senyum-senyum, aku gak ngerti arti senyuman dia. Aku cuma mengira itu sebuah senyuman biasa. Dan arti dari senyuman itu baru terungkap ketika aku naik ke lantai dua menuju ruang tunggu, di pintu langsung disapa oleh petugas bandara dan meminta aku untuk membayar biaya boardingpass sebesar 25ribu. TerPaksa aku turun lagi ke lantai dasar untuk bayar boarding pass, dan kini aku tau apa arti dari senyuman itu.

Setelah beberapa lama berada di ruang tunggu, kini penerbangan akan dimulai. Zzzzaaaappp….*ecek2nya suara pesawat*

Di dalam pesawat aku duduk dekat dengan jendela, emang sesuatu banget bisa ngeliat pemandangan dari atas. Cuma sekitar 49 menit dan aku tiba di bandara Polonia Medan.

Tadi pagi katanya aku dijemput sesampainya di Polonia, sekarang pikiranku sudah gak aman, karena kenyataannya aku gak jadi dijemput. “saya gak bisa jemput ni, kamu naik taksi aja yaa. Langsung ke Hotel Grand Delta”. Nah sekarang aku naik taksi dan mutar-mutar tu taksi sekitar 5 menit dan nyampe di hotel yang dimaksud.

Perjalanan ke Tarutung

Eh rupanya Pak Muksin udah check out dan lagi nyantai di lobby hotel. Gak lama kemudian kami dijemput sama Pak Pasaribu dan berangkat ke Tarutung, kabupaten Tapanuli Utara. Aku kira awalnya perjalanan ini gak makan waktu lama, eh ternyata 6 jam lho dari kota Medan. Cukup sangat lumayan ya…pas kali aku duduk di deret bangku ke dua, dan duduk sendiri jadi agak nyantai dan lapang. Jalan menuju ke Tarutung bukan jalan kota yang banyak perumahan dan bangunan berlantai-lantai. Malahan kiri-kanan yang kami lewati hanya hutan-hutan yang lumayan menyeramkan kalo dilewati sendirian.

Sekitar jam 1 pagi kami tiba di hotel Hineni. Sebuah hotel di  Tarutung, hotelnya nyaman sekali dengan pemandangan yang alami disekitarnya dan hotel ini gak Pake AC (Air Conditioning) lhoo…dan gak kerasa panas, karena memang terletak di dataran tinggi. Karena sangat lelah selama perjalanan, akupun langsung mandi. Kebetulan disediakan pemanas air di kamar mandi, tinggal geser kerannya dan langsung panaslah tu air. Dan ternyata kerang yang aku geser itu gak tanggung-tanggung, aku geser kea rah yang paling panas. Tak lama kemudian, airnya emang cukup panas. Gak jadi hangat, tapi malah panas…berhenti sejenak dan merenung, betapa bodohnya aku, tunggu sebentar kemudian aku geser ke arah yang agak hangat, kali ini gak panas. Nyaman sekali tidur malam ini.

 

Pengambilan data penelitian

Keesokan harinya jam 7 kami sudah keluar kamar untuk siap-siap sarapan dan Pak Muksin menjelaskan beberapa hal yang harus aku lakukan selama di sini. Yaitu mengganti hardisk dari seismometer dan mencatat nomor dan jam pergantian hardisk. Ternyata mudah dan sangat menyenangkan karena penanaman seismometer ada di 42 titik tersebar ke seluruh  Tarutung. Jadi ini sebenarnya bukan bekerja, tapi lebih tepatnya jalan-jalan keliling Tarutung. Yeeeaaaaaa…

Perjalanan dimulai dengan GPS dan peta yang berisi titik lokasi tujuan dimulai dari lokasi yang terdekat dengan start point. Aku Cuma ngambil hardisk baru, catat nomor hardisknya, catat waktu pengambilan hardisk lama dan catat nomor hardisk baru dan yang lama. Cuma gonta-ganti saja, untuk seismometer yang bermasalah itu urusannya Pak Muksin, karena aku emang kagak ngerti. Tapi lama kelamaan aku juga mengerti untuk masalah seperti sinyal GPS gak terkoneksi, atau hal-hal lain yang bersifat ringan.

Untuk hari pertama kami berhasil mengganti sekitar 10 hardisk di 10 lokasi yang berbeda, kami kembali ke hotel sekitar malam gitu deh..lumayan lelah selama perjalanan ini. Malamnya hardisk yang di-unplug dari seismometer kemudian di-download oleh Pak Muksin untuk di-plot ke dalam grafik yang menunjukkan getaran gempa-gempa yang terjadi selama dua bulan penanaman seismometer di Tarutung.

 

dan ketika truk di depan mogok

 

 

Untuk hari kedua kami dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama, Pak Muksin, aku dan bg Sihombing berangkat menuju 10 titik berikutnya, dan Pak Wandi, Pak Galingging serta Pak Pasaribu ada di kelompok dua untuk 10 titik yang lainnya.

Pada hari rabu, tepatnya hari ketiga berpetualang di sini kami kehilangan salah satu seismometer, “Oh My God!!” wajah Pak Muksin langsung panic ketika melihat di balik kawat itu sudah tidak ada lagi seismometer, hanya ada rumput saja. “kenapa bisa hilang ya zaki? Padahalkan alat ini sengaja saya tanam di halaman gereja. Apa mereka nggak takut sama Tuhan mereka?” sebenarnya aku geli dengan pertanyaan ini. “tiap jum’at juga ada sandal yang hilang lho pak di Mesjid ketika shalat jum’at”.

 

seismometernya lenyap

 

 

Grand Delta Hotel, gak bisa buka pintu kamar, ngantuk mati

Karena kehilangan alat seismometer yang malang itu, kami harus berurusan dengan polisi dengan segunung birokrasi sampahnya. Kami menghabiskan setengah hari di kantor polisi yang sangat menyebalkan ini. Namun, walau sedikit lelah, karena aku bisa melihat suasana dan kebudayaan yang berbeda di sini. Mulai dari kantor Dinas Pertambangan yang cuma punya beberapa pegawai dan menurut kami pegawai sejumlah itu tidaklah efektif bekerja. banyak dari mereka yang cuma duduk-duduk doang. Kemudian anjing yang ada di mana-mana sangat berbeda 180o dengan kondisi yang terjadi di Banda Aceh. Di Tarutung aku pikir hampir setiap rumah punya anjing, dan mereka menggendongnya layaknya kami (orang Aceh) menggendong kucing. Hal itu membuatku sangat merasa geli. Dan yang paling memalukan adalah maraknya pungli yang terjadi secara terang-terangan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab di jalan-jalan.

Setelah 4 hari melakukan pengambilan data, pada hari kamis kami kembali ke Aceh. selama perjalanan banyak candaan dan cerita-cerita nostalgia dari Pak Muksin dan Pak Wandi yang membuat aku ketawa terbahak-bahak, namun aku cuma bisa ketawa saja. Mereka kan dosen, namun skali-kali aku juga ikutan menyudutkan Pak Wandi. Di situ aku tau bahwa Pak Wandi itu ternyata humoris juga dengan gayanya yang lugu slalu menjadi korban dari Pak Muksin.

Perjalanan pulang terasa lebih singkat dari perjalanan awal kami. Karena Pak Wandi akan berangkat ke Italia untuk melanjutkan studi doktoralnya, beliau sibuk belajar bahasa Italia selama perjalanan pulang. Sampe-sampe setibanya di Danau Toba beliau pesan Cappuchino panas pake logat Italia.

 

lagi menikmati pemandangan Danau Toba

 

 

Perjalanan panjang ini belum lagi berakhir dan setibanya di Medan kira-kira jam 10 malam. Kami sudah kelelahan dan mengantuk, dan Pak Muksin memutuskan untuk kami menginap semalam lagi di hotel. Beliau memesan 2 kamar, mereka berdua sekamar dan aku sendiri.

Ketika di Tarutung aku dikasih kunci kamar, tapi di hotel ini kenapa yang dikasih cuma kartu, sejenis kartu ATM. “alah palingan tinggal gesek aja” pikirku sama seperti mesin ATM. Tiba di pintu kamar, pegawai kebersihan hotel baru selesai bersih-bersih, ya aku tanya aja langsung karena aku gak nemu tu yang namanya saklar. Sangat memalukan memang. Eh ternyata kartu itu berfungsi sebagai saklar, maklum, biasanya di kamar kos dan gak ada yang begituan. Setelah mandi dan nonton tivi sejenak aku tersadar, mala mini belom makan. Aku bukalah daftar menu makanan hotel, dan ternyata harganya bisa beli 3 porsi di luar sana. Aku diam dan menunggu ajakan makan dari Pak Muksin yang gak kunjung tiba. soalnya Aku gak tau mau makan dimana.

Karena perut udah sangat terasa lapar, aku menekatkan diri untuk keluar dan cari makan sendiri. Tiba di depan pintu kamar, aku pegang tu kartu, tapi aku gak tau cara tutup pintunya, dan kalo udah ditutup nanti gimana cara bukanya? Mau tanya, takut ganggu Pak Muksin yang mungkin sedang istirahat. Pegawai hotelpun gak ada yang nongol, eh ternyata udah jam 1 pagi. Semakin lapar perut ini dan aku hanya bisa minum yang disediakan di kamar hotel dan nonton tivi sambil telponan dengan dia yang jauh di sana.

Tak lama kemudian panggilan dari Pak Muksin, dengan semangat aku keluar kamar dan masih dengan nada bingung aku tanya sama Pak Wandi “gimana pak cara kunci dan buka kunci pintu pake kartu ini?” dan tadaaaaam….aku kena marah “kamu ini udah lulus sarjana, ini aja gak bisa. Ini kan gini, ini kan gitu blab la bla#$%^&*((*^%$*” serasa kayak anak dodol dan diarahkan kayak anak TK. Adoooh kenapa dodol kali kayak gini.

Setelah perkara kunci pintu selesai, kami beranjak ke mie Aceh yang ada di dekat hotel. Makanannya enak, dan malam itupun aku tertidur sangat puaaaass…nyenyak skali. Hingga besoknya Pak Wandi berangkat kembali ke Banda Aceh, Pak Muksin menuju Kuta Binje menjenguk ayahnya yang sedang sakit, dan aku ke Langsa menjenguk kedua orang tuaku dan adikku.

Well, pertualangan yang sangat menyenangkan dan foolish terjadi sangat tidak diduga-duga dan aku punya kesempatan untuk pulang ke Langsa walau sesaat namun sangat berarti.

4 thoughts on “Petualangan di Tarutung

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s