Dilema anak pertama *kenapa anak pertama sedikit bego’

Yang aku tau anak pertama itu hadir ketika sperma bertemu dengan sel telur, selama sembilan bulan ibu mengandung terlihat kemesraan yang luar biasa antara ayah dan ibu dalam penantian kelahiran anak pertama.

“ma, anak kita pasti mirip papa…” kata si ayah

Sang ibu gak mau ngalah “gak papa, anak kita mirip mama aja deh”

Lalu si ayah mengambil jalan tengah, “mau mirip mama atau papa gak apa. Yang penting jangan mirip sama dokternya ya ma”. “mama setuju sama papa, mama sayang papa”

Ada beberapa pandangan yang muncul ketika anak pertama berlaku sedikit aneh atau emang sebenarnya konyol. “kamu pasti anak pertama” hampir setiap orang berpendapat seperti itu. Nah,,,mengapa hal ini bisa terjadi di sekitar kita? Toh anak pertama dengan anak kedua sama. Sama-sama lahir dari ibu yang sama, hanya saja waktunya yang berbeda. Ada beberapa alasan yang bisa menjelaskan mengapa semua ini bisa terjadi. Diantaranya, anak pertama tidak memiliki sosok abang/kakak di dalam keluarga. Anak pertama dituntut harus menjadi ikon keluarga untuk menjadi contoh bagi anak-anak berikutnya.

Seseorang bingung ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi dan tidak ada satupun siswa yang beranjak keluar kelas. Siswa yang berkeinginan keluar lebih cepat jadi bertanya-tanya ketika berada dalam keadaan ini. “apa aku salah dengar bel?” apa aku salah kalo keluar sekarang?” atau memang belum boleh keluar kelas, karena menunggu sesuatu?”. Sama halnya pada anak pertama, pertanyaan yang sama muncul seketika itu dan membuat anak pertama harus mikir beberapa kali sebelum melakukan sesuatu. Terkadang apa yang seharusnya dilakukan harus ditunda karena masih ragu akan kebenaran langkah yang akan diambil. Hal tersebut akan menyebabkan anak pertama tampak bingung dan terlihat suka melamun. Hal yang berbeda terjadi pada anak kedua, anak pada posisi ini dengan mudah menyalahkan anak pertama ketika dia baru saja menjatuhkan vas bunga dari atas meja ruang tamu. “tadi kakak menjatuhkan vas yang ada di ruang tengah, sekarang adek jatuhin vas yang ada di ruang tamu dong”. Pengakuan seperti ini sering terjadi dan berakibat fatal bagi mereka yang dipanggil “kakak”. Karena kedua orang tua akan menyoroti si pemberi contoh yang tidak baik.

Hidup di bawah tekanan itu tidak mudah dan tidak enak. Percaya atau tidak, coba saja ketika kamu menjadi seorang juara lomba mengaji tingkat kecamatan. Ketika mengikuti lomba tingkat kabupaten, pasti semua orang menuntut kamu untuk jadi pemenangnya. Apalagi kalo juara dari kecamatan lain gak ikutan. Orang-orang akan banyak menaruh harapan yang akan membuat bahumu terasa semakin berat menjalani perlombaan tersebut. Ketika menang, semua akan bangga, namun ketika kamu berada dalam keterpurukan. Tidak semua akan membangunkan kamu. Itu kenyataannya. Anak pertama slalu dijadikan contoh, bahasa lebih tepatnya dipaksa untuk jadi contoh bagi anak-anak berikutnya. Hal yang tidak adil terjadi dalam percontohan di dalam keluarga. Bila anak pertama gagal, maka orang tua akan membandingkan hasil yang diraih dengan hasil gemilang yang pernah diraih oleh kedua orang tua tersebut. Atau membandingkannya dengan hasil yang diraih oleh anak-anak berbakat lainnya. Di sisi lain hal bertolak belakang terjadi pada anak kedua, dia jarang sekali dibandingkan dengan mereka (orang tua), malah dibandingkan dengan anak pertama yang notabene-nya sama-sama anak. Hal tersebut akan mengurangi beratnya kepala anak kedua untuk memikirkan tentang persaingan. Dalam hal ini anak pertama cenderung lebih stress dan dituntut untuk berbuat lebih baik dalam sebuah keluarga.

Dari sekian banyak beban derita yang harus dipikul oleh anak pertama, ada juga banyak hal indah yang tidak bisa dirasakan oleh anak kedua. Nah ini dia yang dibilang “mumpung gue lahir lebih duluan”. Tentunya anak pertama sangat dirindukan kehadirannya pada setiap pasangan pengantin baru, segala sesuatu dipersiapkan semaksimal mungkin, karena dia anak pertama. Hal ini sama seperti ketika seorang mahasiswa diterima di kampus, ada begitu banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari baju, buku, sepatu, laptop, dan lain sebagainya. Namun ketika memasuki semester kedua, sepatu lama masih bangus, ngapain beli yang baru. Orang tua yang menanti anak pertama sangat berhati-hati, karena memang belum ada pengalaman tentang ini. Kalau si anak menangis, bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana juga ketika ini dan ketika itu blab bla bla…

Persiapan menanti anak pertama yang biasa dilakukan mulai dari mempersiapkan pakaian, mainan dan lain sebagainya. Anak pertama mendapat porsi yang special. Ketika anak kedua lahir, dia masih bisa peke mainan kakaknya dan baju kakaknya juga masih bagus, kenapa harus beli baju baru. Karena pertumbuhan bayi itu sangatlah cepat yang membuat anak pertama banyak menikmati hal-hal baru dalam hidupnya.

Singkatnya, berbanggalah menjadi anak pertama, karena anak pertama sangat diharapkan untuk bisa berdiri di depan, menjadi orang yang diikuti lebih baik daripada mejadi pengikut. Dan membuat orang lain mengikuti kita tidaklah mudah. System sudah mengatur semuanya sehingga hal ini otomatis terjadi dalam kehidupan kita. Ketika dijadikan harapan untuk keluarga, maka tugas kita, buktikan kalau kita mampu, buktikan bahwasanya kita bisa. Tantangan hadir untuk dilumpuhkan, bukan untuk ditakuti atau untuk lari. Jadilah pemenang, bukan pecundang. Ketika orang-orang mengatakan anak pertama itu bego’, abaikan saja, semua itu terjadi karena keadaan, bukan bawaan.

3 thoughts on “Dilema anak pertama *kenapa anak pertama sedikit bego’

  1. Tantangan hadir untuk dilumpuhkan, bukan untuk ditakuti atau untuk lari. Jadilah pemenang, bukan pecundang. Ketika orang-orang mengatakan anak pertama itu bego’, abaikan saja, semua itu terjadi karena keadaan, bukan bawaan.

    Anda super sekali, mengingatkan saya pada sosok yang super sekali juga😀

    Kembali ke topik, IMO, yang membuat bego gak bego itu cuma dianya sendiri. Kurang setuju kalau anak pertama itu bego atau sebaliknya, kalau ada yang bilang begit, mungkin yang bersangkutan lagi ada masalah pribadi aja hehe😀

    1. hahaha…siapakah yang super itu?? everybody kurang setuju. tapi paradigma yang terjangkit di tengah-tengah masyarakat adalah seperti itu..
      tidak ada yang bego sebenarnya. hanya saja anak pertama tidak mendapatkan contoh prilaku dari anak2 yang lain. berbeda dengan anak kedua yang bisa mencontoh anak pertama di keluarganya…

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s