Aku tidak suka dokter

Profesi yang banyak diincar oleh kaum muda sekarang ini adalah dokter. Banyak diantara mereka yang ingin jadi dokter karena lapangan pekerjaan seorang dokter sangat menjanjikan. Setelah selesai koas, pada dokter muda atau apalah namanya akan sangat mudah diangkat menjadi seorang dokter. Bila begitu banyak yang ingin menjadi dokter, siapa yang akan menjadi pasien? Data statistic menunjukkan ada begitu banyak calon mahasiswa Fakultas Kedokteran tiap tahunnya yang berbanding lurus dengan pertumbuhan dokter-dokter masa depan. Namun sangat disayangkan, kuantitas berbanding terbalik dengan kualitas. Hal ini menyebabkan aku tidak percaya sepenuhnya sama dokter-dokter yang ada. Mereka telah banyak mengecewakanku. Diantara beberapa kasus yang membuat aku bertambah geram dengan dokter adalah, banyaknya masyarakat yang berobat ke luar negeri. Ayahku divonis diabetes, padahal tidak. Gigiku ditambal dua kali dalam dua hari, dan keduanya lepas lagi.

Faktanya, seorang gubernur Aceh ketika sakit berat, beliau lebih memilih berobat ke luar negeri. Di Negara tetangga, pengobatannya terjamin dengan harga yang tidak terlalu mahal seperti halnya berobat di dalam negeri. Dan yang terjadi di lapangan adalah, begitu banyaknya orang yang blebih memilih berobat di Negara tetangga yaitu Malaysia daripada memilih untuk berobat di negaranya sendiri. Padahal sudah jelas ada beberapa rumah sakit di Indonesia bahkan di Aceh yang berstandar internasional. Namun bagaimana pelayanan dan kualitas dokter pada rumah sakit- rumah sakit yang dikatakan berstandar “internasional” itu? Jawabannya ada pada banyaknya warga Aceh yang lebih memilih pelayanan kesehatan di luar negeri dari pada dalam negeri. Setiap tahunnya ada ribuan perawat dan dokter diwisuda. Bagaimana dengan kualitas yang dihasilkan menjadi tanda Tanya besar bagi para calon dokter ke depannya. Kuantitas harusnya berbanding lurus dengan kualitas. Semakin banyak dokter yang dihasilkan seharusnya semakin bagus pula pelayanan kesehatan yang diberikan. Kenyataan ini sudah seharusnya diubah seiring berjalannya waktu. Kualitas wajib diutamakan dari sekedar menang jumlah saja.

Beberapa tahun lalu, keluarga kami mengalami masa-masa suram dimana ayah tidak bisa menikmati hari-harinya seperti biasa. Tiap tahun ayah masuk rumah sakit minimal satu kali. Atau bahkan sampai dua kali dalam setahun. Biasanya ayah masuk rumah sakit tiap menjelang atau dalam bulan puasa dan setelah hari raya Idul Adha. Bulan puasa yang seharusnya bisa dinikmati serasa begitu pahit bagi ayah pada saat itu. Pada awalnya ayah divonis usus buntu. Setelah operasi, sekitar dua tahun berikutnya ayah seperti diwajibkan untuk masuk rumah sakit tiap tahunnya. Dokter butuh waktu yang sangat lama dalam mendiagnosa pasiennya, kami tak tahu pasti penyakit yang diderita ayah pada waktu itu. Setelah berkali-kali masuk rumah sakit barulah dokter menyatakan hal yang mengejutkan bahwa ayah menderita diabetes. Hari-hari berikutnya dijalani ayah dengan hambar. No gula. Itu semboyan yang kami jaga di rumah untuk menyelamatkan orang yang sangat kami cintai itu. Menganggap kualitas rumah sakit lokasl yang kurang, ayah juga menuju ke rumah sakit yang ada di medan untuk berobat, dan hasilnya sama.

Hingga pada suatu hari seorang teman ayah yang sudah tidak tahan lagi melihat penderitaan ini mengajaknya untuk berobat ke Penang, Malaysia. Tidak lama mereka berada di sana,. Hanya sekitar tiga hari dan pulang. Ternyata dugaan diabetes yang selama ini di-elu-elukan hanya hoax semata. Hanya batu ginjal dan dengan operasi kecil, batu tersebut pecah dan berhasil dikeluarkan. Ayah bisa menikmati hari-harinya dan kami semakin menjauhi rumah sakit sejak saat itu.

Hal berikutnya terjadi beberapa bulan lalu ketika aku merasa gigiku sudah berlubang, aku mencoba menyelamatkan gigi-gigi ini dengan mengunjungi rumah sakit ke bagian poli gigi. Pada saat itu aku mengunjungi salah satu rumah sakit yang ada di pusat kota Banda Aceh. dipenuhi oleh banyaknya dokter muda (mahasiswa koas) membuat rumah sakit ini sedikit lebih semak dari biasanya. Sang dokter sih nyantai-nyantai aja, tinggai nyuruh sana-sini dan liat ini-itu. Nah, apa yang terjadi pada pasien bila kenyataannya seperti ini? Aku sebagai pasien merasa menyesal mengunjungi rumah sakit ini pada saat itu. Setelah gigiku ditambal oleh seorang dokter gigi muda, aku merasa puas karena tambalannya nyaris tidak terlihat (menyatu dengan gigi). Namun setibanya aku di rumah, tambalan itu lepas. Si dokter muda berpesan “bila tambalannya lepas, besok datang lagi ya” dengan meninggalkan nomor hapenya keesokan harinya aku datang lagi menjumpai dokter muda yang sama untuk dibenarkan pekerjaannya yang kemarin. Lama sekali kerjanya, pasien seperti kelinci percobaan dibuatnya. Agak sedikit geram dengan waktu kerja yang begitu lama dari mahasiswa koas ini. Setelah selesai, aku pulang dan malamnya, tambalan yang ke dua ini lepas. Kesabaranku lenyap dan aku tidak ingin kembali ke rumah sakit itu lagi.

Dengan beberapa pengalaman buruk yang aku rasakan, bagaimana kita bisa berbangga dengan banyaknya lulusan dokter di Indonesia, khususnya di Aceh selama ini. Apakah mereka coba-coba? Seberapa besar pengaruh mata kuliah yang mereka pelajari di kampus tidaklah bermakna bila kenyataan berkata seperti fakta yang terjadi sekarang ini. Sudah saatnya meningkatkan kualitas daripada hanya menambah kuantitas untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Masa depan dunia kesehatan di Aceh dan Indonesia pada umumnya akan semakin suram bila hal-hal seperti ini terus dilestarikan dan tumbuh subur disekitar kita.

2 thoughts on “Aku tidak suka dokter

  1. setuju🙂

    aku jg tak suka dokter setelah beberapa kali kesalahan yg dibuat’a.
    1. aku sempat batuk keras hingga tekanan darah meningkat, tp dibilang’a aku darah tinggi, ok. gpp., tp pas ku cek obat batuk yg dikasih adalah anti”tidak boleh”buat org punya darah tinggi. GILAK:(
    2. pernah keracunan sama obat nyamuk bakar. tp dokter malah bilang aku hanya demam dan perasaan aja aku sakit krn obat nyamuk bakar itu., akhir’a penderitaan aku harus dilanjut hingga akhir’a tubuh mengeluarkan racun’a secara alami lwat batuk.
    dokter pungo

    hehe.

    1. hal seperti ini sudah seharusnya diminimalisir. semoga ke depan tidak ada terulang lagi hal-hal yang demikian yaa

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s