Biaya parkir yang tidak seimbang

Ketidak-teraturan sering menyebabkan pemandangan yang tidak menyenangkan. Ketika kendaraan baik roda dua maupun empat berada di halaman kampus dengan posisi yang tidak teratur, terkadang kita akan merasa risih dengan hal itu. Terkadang dan memang hal itu sangat mengganggu. Untuk mengatasi hal tersebut, datanglah tukang parkir yang akan mengatur keteraturan kendaraan-kendaraan yang berada di halaman parkir kampus. Namun ketidak ketidak-adilan sering terjadi di sini. Ketika biaya parkir mobil dan motor berbeda. Hal ini akan menyebabkan kesenjangan yang besar. Kesenjangan terjadi antara pemilik kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat khususnya di kampus Unsyiah. Aku tidak tahu darimana peraturan ini berasal dan bagaimana peraturan ini diputuskan. Peraturan biaya parkir di kampus ini berbeda drastic antara pengendara kendaraan roda dua dan empat.

Biaya parkir tiap lokasi parkir berbeda-beda sesuai dengan tarif yang ditetapkan oleh si penjaga parkir tersebut. Sebagai contoh di Fakultas MIPA, si penjaga parkir tidak terima ketika pengendara roda dua meninggalkan lokasi parkir dengan hanya membayar Rp. 500,-, namun harus membayar Rp. 1000,-. Di tempat lainnya tariff yang dikenakan berbeda. Ada yang tiap keluar harus membayar sebesar Rp. 500,- dan lainnya. Namun, dengan bayaran Rp. 1000,- di Fakultas MIPA, pemakai tempat parkir boleh bolak-balik beberapa kali dalam sehari dengan hanya membayar sebesar uang tersebut. Perbedaan yang sangat drastic terjadi pada motor dan mobil. Dimana pengendara sepeda motor harus membayar sejumlah uang untuk biaya parkir, dan pemilik mobil bebas parkir. Hal ini bukan di satu tempat saja terlihat, namun di beberapa tempat yang sering aku lewati. Seperti di beberapa fakultas.

Untuk kendaraan roda dua, hal ini lumayan merugikan bagi mahasiswa. Dalam 1 bulan seorang mahasiswa harus membayar sebesar Rp. 25.000,- untuk biaya parkir di kampus saja. belum lagi ketika harus membeli sesuatu ke took yang berada di seputaran Darussalam. Sekali parkir juga harus bayar Rp. 1000,-. Jadi bila setiap mahasiswa membayar parkir di setiap tempat, maka dalam satu bulan terbilang jumlah uang yang harus dibayar sebesar Rp. 50.000,-. Ini memang bukan jumlah yang terlalu besar. Tapi lumayan berarti untuk mereka yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.

Mengapa demikian?

Yang aku tau lokasi yang dibutuhkan oleh sebuah mobil untuk parkir kurang lebih 4 kali besar lokasi yang dibutuhkan oleh sepeda motor. Dalam hal ini mobil seharusnya membayar 4 kali lipat dari jumlah uang yang dibayar oleh pengendara motor karena tempat yang dibutuhkan oleh sebuah mobil lebih besar. Pengendara mobil tentunya bukanlah orang miskin atau orang yang tidak mampu membayar biaya parkir. Namun kenapa mobil bebas parkir di area kampus masih jadi pertanyaan yang besar dalam pikiranku.

Katakan saja pengguna mobil itu adalah dosen, sehingga bebas dari biaya parkir. Hal ini lebih tidak adil. Dosen tiap bulannya dibayar oleh pemerintah. Sedangkan mahasiswa tiap semesternya harus membayar SPP ke kampus. Seharusnya yang wajib bayar parkir itu adalah pengguna mobil, karena sudah pasti mereka memiliki uang lebih. Bila mereka tidak punya uang, jual saja mobilnya.

Aku tidak setuju bila biaya parkir di kampus dikenakan kepada pengguna sepeda motor dengan bebas parkir bagi pengendara roda empat. Enak sekali pengguna mobil yang dengan mudahnya lalu-lalang dengan bebas parkir, sedangkan pengguna sepeda motor harus bayar. Bila semua mahasiswa mampu dan kaya, tentu saja mereka semua akan membeli mobil, agar bebas dari biaya parkir. Beberapa mahasiswa berusaha memarkir kendaraan mereka di tempat yang tidak seharusnya walhasil hal tersebut mengganggu pengguna jalan lainnya. Apa hal seperti ini yang diinginkan oleh pembuat kebijakan di kampus?

2 thoughts on “Biaya parkir yang tidak seimbang

  1. Saya juga merasakan hal yang serupa. Tukang parkir jika diberikan duit Rp 1.000,- tidak mau mengembalikannya, padahal menurut peraturan daerah, retribusi parkir cuma Rp 500,-

    Bahkan tidak ada tiket parkir yang berarti tidak ada bukti berapa banyak yang sudah parkir dan berapa pemasukan. Ini merupakan salah satu bentuk kecurangan.

    Di kampus teknik, setiap parkir kendaraan bermotor roda dua, selalu dijatah Rp 500,- dan ada tiket masuk, serta ada jaminan penggantian kendaraan bermotor yang hilang atau tercuri. Tetapi, untuk kendaraan roda empat, tidak ada retribusi parkir karena sangat jarang sekali ada mobil yang hilang di teknik, terkecuali sepeda motor

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s