Do what you love and love what you do

Banyak lulusan sarjana tiap tahunnya tidak sebanding dengan banyaknya lowongan kerja yang tersedia. Hal ini meningkatkan jumlah pengangguran-pengangguran muda di Aceh. untuk mendapatkan sebuah pekerjaan tidak hanya dibutuhkan skill, namun juga gairah bekerja sangat mempengaruhi kualitas seorang pekerja. Aku percaya bahwa orang yang bergairah ketika bekerja di bidangnya akan lebih produktif daripada orang yang bekerja dengan memiliki skill yang hebat.
Ada banyak contoh orang-orang sukses di dunia ini yang tidak bisa menyelesaikan kuliahnya (di drop out) hanya karena mereka focus bekerja pada apa yang mereka suka (melakukan hobi/kegemaran). Contohnya Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg dan lain sebagainya adalah bagian kecil dari contoh orang-orang yang telah berhasi menempatkan namanya dalam sejarah dunia. Mereka terlalu sibuk dengan melakukan apa yang mereka suka sehingga melupakan kuliah. Namun hal ini tidak disarankan bagi orang-orang yang kuliahnya ditanggung oleh pihak lain. Namun bila biaya kuliah ditanggung oleh diri sendiri kenapa tidak. Orang-orang sukses ini akan melakukan apapun untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka sukai tanpa harus dibayar. Steve Jobs dan Bill Gates dikeluarkan dari universitas karena mereka menyukai software dan mengembangkannya. Mereka malakukannya. Dan kesungguhan mereka membuahkan hasil yang maksimal karena kerja keras mereka selama ini. Mereka rela dikeluarkan asalkan pengembangan software yang sedang mereka kerjakan berjalan lancar. Bahkan walaupun tidak tidur semalaman. Hal yang sama juga terjadi pada Mark yang focus pada pengembangan jejaring social “facebook” saat ini siapa yang tidak kenal facebook dengan warna khasnya “biru”.
Saya teringat satu hal dari apa yang dikatakan oleh mendiang Steve Jobs “Do what you love, and love what you do”. Kalimat tersebut sangat menginspirasikan saya dalam melakukan berbagai hal dan membuat saya lebih menikmati apa yang saya kerjakan. Ketika kita melakukan pekerjaan pada apa yang kita sukai, percaya atau tidak, kita bekerja bagaikan bermain. Dan kita mendapatkan uang dari permainan tadi. Itulah yang dilakukan orang-orang sukses yang saya sebutkan di atas.
Seorang pengusaha property seperti Donald Trump tidak bekerja untuk uang, dia bekerja karena dia merasa ingin mengerjakannya dan dia merasa membuat transaksi itu menyeangkan dan merupakan sebuah bentuk seni yang indah. Transaksi-transaksi yang dilakukannya membuatnya merasa bahagia dan akan terus dilakukan karena dengan cara itu dia akan merasa puas dan gembira. Focus pada gairah yang dimiliki membuat uang akan selalu mencari dimana Trump berada. Reputasinya datang karena dia bergairah dalam bidangnya. Semua orang akan menilai seberapa besar atusias yang anda miliki dalam bekerja akan berpengaruh pada hasil yang akan anda berikan. Tentu kita tidak bisa hanya duduk-duduk saja untuk mendapatkan uang. Kita harus bekerja dengan penuh gairah dan uang akan menemukan anda kelak.
Pengalaman mengajarkan saya bagaimana menemukan gairah dalam bekerja. Di akhir tahun lalu, saya diterima kerja di sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sejak diterima bekerja di perusahaan ini saya tidak merasa puas dan gembira seperti ketika saya diminta untuk jadi asisten laboratorium di Fakultas MIPA. Tentu saja gaji yang ditawarkan sangat besar bila dibandingkan dengan fresh graduate yang diterima sebagai pegawai negeri. Sejak awal aku tidak menikmati pekerjaan ini. Aku merasa ini bukanlah aku. Namun aku butuh uang, dan cara ini halal dan baik untuk aku kerjakan. Aku harus punya uang hanya untuk membeli laptop baru. Karena bagiku laptop adalah sarana belajar yang harus aku miliki. Tanpa gairah, aku merasa pekerjaan ini sangat berat tiap harinya. Semakin berat dan semakin berat dengan jarak tempuh yang cukup jauh, aku merasa tidak sanggup lagi mengerjakannya. Namun aku ingat sejumlah uang yang aku butuhkan. Aku hanya berkerja sebagaimana yang dimandatkan padaku. Tanpa adanya improvisasi karena memang aku tidak menyukainya. Ketika akhir bulan datang, merasa senang yang lebih daripada ketika aku diterima di pekerjaan ini. Karena pada awal bulan kedua aku sudah tidak bekerja di sini lagi. Aku mendapatkan uangnya dan aku keluar dari pekerjaan itu.
Pada sisi lain. Aku pernah mengajar di sebuah SMP di Banda Aceh. aku menggantikan seorang guru yang pada saat itu sedang sakit dan tidak bisa mengajar karena factor kesehatan. Aku mengajar bersama teman-temanku. Kami mengajar pengantar ilmu komputer dasar. Aku menyukai computer, aku suka teknologi dan aku suka mengajar, karena mengajar memberikan sebuah kepuasan batin bagiku. Aku mengajar lima hari dalam satu minggu. Kami hanya mengajar satu bulan. Pada saat itu aku masih berstatus mahasiswa. Jadi harus bolak-balik kampus dan sekolah. Setelah akhir bulan, gaji yang kami terima tidaklah besar untuk satu bulan. Aku dan teman-teman hanya menerima uang sebesar 4% dari gaji yang aku terima beberapa bulan yang lalu untuk masing-masing pengajar. Uang sebesar ini sangatlah kecil, aku menikmatinya karena aku melakukan apa yang aku sukai dan menyukai apa yang aku kerjakan.
Ketika kamu mencari kerja, aku sarankan temukan dulu arah keahlianmu. Karena bekerja tanpa keahlian kamu tidak bisa melakukan apa-apa. Namun kamu akan lebih cepat beradaptasi dan belajar untuk bisa. Berbeda halnya dengan bekerja tanpa gairah, walaupun kamu memiliki keahlian di atas rata-rata, kamu tidak menikmati apa yang kamu kerjakan. Pekerjaan akan terasa hambar dan memuakkan. Temukan gairahmu, dan lakukan apa yang kamu suka, maka kamu akan merasa bermain dengan pekerjaan tersebut.

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s