Kisah dibalik Idul Adha 1430H

Memasuki bulan Dzulhijjah belum membuka peluang bagiku untuk mudik ke pangkuan ibunda tercinta. Memang dari awal Aku gak punya rencana untuk pulang kampung pada lebaran Idul Adha kali ini karena libur hanya beberapa hari saja, ponselku berdering dan kulihat foto Mama yang cantik dilayar ponselku.

“abang apa kabar, gimana kuliahnya nak?” tanya Mama dengan penuh perhatian

“kabar baik ma, kuliah masih kayak biasa. Persemester 6 bulan dan mesti bayar SPP tiap semesternya. Hehe” Aku memang suka bercanda dengan Mama.

“Kalo itu Mama juga tahu, nilai kek mana caranya jangan ancur terus bang… bisa gak??”

“Oh kalo itu ntar kita lihat-lihat lagi ya ma…”

“abang kapan libur semester? Lebaran haji ada libur?” tanyanya dengan penuh kerinduan

“libur semester ntar sekitar bulan february ma, libur lebaran kayaknya Cuma 1 atau dua hari gitu. Gak bisa pulang deh ma, gimana?”

“kalo emang gak bisa pulang ya udah, gak apa. ntar Mama kirim aja kue hari rayanya ya.. biar jadi anak kos, abang juga bisa lebaran  dan makan kue lebaran di rumah”

“boleh juga, tapi kirim yang banyak ya ma, perbaikan gizi. Huhuhu…”

“tenang aja anakku”

Bahagianya setelah percakapan singkat itu berakhir, secercak kerinduan terasa hangat dalam ruang hatiku. Bila lebaran kali ini Aku tidak bisa pulang, itu artinya ini lebaran pertamaku tanpa keluarga, bagai anak terbuang di negri orang. Tampak tidak ada celah bagiku untuk pulang kampung pada liburan kali ini, namun terus mengintip celah dibalik ruas jadwal kuliah yang kian padat. Satu persatu dosen telah membiarkan mahasiswa untuk menikmati lebaran dalam waktu satu minggu walau ada satu mata kuliah yang tidak, ahh sekali saja Aku gak masuk ni mata kuliah kan gak apa, lagian walaupun Aku masuk, ngerti juga enggak…

Satu lagi rintangan yang sulit dilewatkan, hari rabu siang Aku harus menemani mahasiswa matematika untuk praktikum fisika dasar sebagai asisten lab. Terus berfikir untuk mencari cara pulang lebih cepat dan lama untuk kembali. Jam 2 siang adalah jadwalku jadi asisten lab fisika dasar untuk percobaan Konsep Kecepatan, Percepatan dan Momentum dan percobaan Gerak Jatuh Bebas. Satu orang asisten untuk dua percobaan.

Jika hari rabu Aku tetap jadi asisten, kapan Aku harus berangkat, jika Aku pulang naik mobil angkutan umum seperti bus atau L300 ya gak masalah, malam Aku pulang, besok paginya udah menapak di tanah Kota Langsa. Tapi Aku pulang dengan motor kesayanganku ya gak mungkin melewati sore dengan lelahku. Praktikum fisika dasar akan selesai sekitar jam 4 sore, jika disederhanakan dengan sangat sederhana maka bisa Aku selesaikan jam 3 siang itu juga. Hmm…kembali memutar otak, baiklah Aku putuskan jam 3 pulang dengan motor ke Matang Glp Dua yang merupakan tanah kelahiranku dan malamnya Aku langsung berangkat ke pangkuan orang tuaku di Langsa. Vivi pulang malam kamis, Oja juga, bahkan Mona yang bertempat tinggal di Banda Aceh tentunya gak melakukan perjalanan jauh selama lebaran, kenapa gak minta tolong ma mereka aja tuk gantiin jadwal asisten kali ini?

Sebenarnya gak enak juga repotin mereka hanya tuk gantiin Aku jadi asisten dan Aku enak-enakan pulang kampung. Tapi ini satu-satunya cara Aku bisa pulkam, Aku coba minta bantuan mereka dulu, tapi gak maksa kok…kalo emang gak mau juga gak apa-apa. “mona, gantiin Aku jadi asisten ntar hari rabu mau gak?” tanyaku penuh harap dia mau gantiin tugasku itu. “iya boleh, tapi yang konsep kecepatan aja ya…yang gerak jatuh bebas mona gak ngerti” “jeh…sekalian ajalah, biar Aku ajarin. Gak payah tuh, gampang kali pun…ntar liat rumusnya di modul yang ada dalam lokerku” mintaku agak maksa dikit, gak banyak.heheh. oja yang ada dekat kami pun tiba-tiba menyambar percakapan itu, “ya udah, biar oja aja yang gantiin Zaki tuk praktikum gerak jatuh bebas” lega rasanya beban terakhirku kini tlah aman terkendali.hahaiii….

Senin itupun jadi sangat berarti bagiku, persahabatan itulah yang akan menopangmu ketika kamu akan terjatuh, mereka tak akan biarkan kamu menikmati rasa sakit sendirian. Malamnya Aku langsung mempersiapkan presentasi untuk mata kuliah Ilmu Logam, padahal besok bukan jatahnya Aku untuk mempresentasikan tentang “laku panas pada keadaan tidak setimbang” namun Aku persiapkan saja bila besok Aku dapat izin dari dosen untuk maju, ya ntar Aku balik ke Banda Aceh agak lamaan dikit, liburanpun terasa lebih panjang dan berarti.

Jam sudah menunjukkan 14:00 WIB, itu berarti akan segera masuk ruang kuliah untuk Ilmu Logam, presentasiku sudah kupersiapkan semalaman hingga Aku telat tidur. Harap-harap cemas kapan Aku dipanggil untuk mempresentasikan bahan yang telah ditugaskan padaku, udah jam 15:00 WIB namun temanku masih presentasi di depan kelas, wahh kayaknya giliranku minggu depan, terpaksa senin harus sudah berpijak di Banda Aceh kembali, namun sekitar 20 menit kemudian usai sudah presentasi temanku dan Aku mengajukan diri untuk maju pada hari ini, “pak, saya maju hari ini saja gimana pak? Bolehkah?” “memangnya kamu sudah siap?” “InsyaAllah siap pak” jawabku dengan mantap dan beliau mempersilahkan Aku untuk maju. Cukup 40 menit selesai tanya jawab walaupun banyak pertanyaan yang gak bisa kujawab, ya emang Aku gak ngerti-ngerti kali dengan topik bahasannya lagipula semalam Aku kebut tuk persiapkan presentasinya. Ya lumayan lega…

Jadwal kuliah sore ternyata dosennya berhalangan hadir, dan Aku cukup senang walaupun ada tugas yang menanti. Setidaknya Aku bisa langsung pulang untuk mempersiapkan kepulanganku besok pagi-pagi. Langsung Aku menuju ke SPBU untuk isi bahan bakar motorku bersama adik sepupuku yang bernama khaled, usai pulang dari SPBU kami sempatkan untuk melihat-lihat kondisi motor untuk persiapan perjalanan jauh.

Selesai makan malam akupun mulai mengosongkan lemari, tapi kayaknya gak perlu bawa pulang banyak-banyak pakaian, karena Aku dan adikku punya ukuran pakaian yang gak beda, malah bajunya pas banget untuk Aku pakai, tapi celananya yang kebanyakan dipotong karena Aku lebih tinggi dari adikku. Hahaha.. Setelah memasukkan semua yang harus Aku bawa ke dalam tas ranselku, kami tinggal menanti pagi yang cerah untuk bertempur di atas aspal.

Malam ini entah mengapa Aku gak sabaran untuk bisa pulang lebih cepat sampai gak bisa tidur padahal udah larut dan besok kondisi tubuh harus cukup fit karena perjalanan kurang lebih 200 Km menuju Matang Glp Dua dengan sepeda motor. Hingga jam 01:00 WIB kami belum juga tertidur, malahan perut terasa lapar banget,

led, beli nasi yok?”

“ayok bang, dimana kita beli?”

“maksud abang, qe pigi sendiri aja di ujung gang kan ada”

“ah gak berani bang, udah tengah malam ni, kita pigi dua aja yok, atau abang nonton aja dibawah, biar Aku yang beli”

“ya bolehlah”

Belum lama khaled keluar, dia sudah kembali tanpa bawa pulang apapun, “nasi gorengnya habis bang, gimana ni?” “ya udah keluarin kereta, kita ke Darussalam sekarang” di komplek kampus Unsyiah biasanya sampai larut malam masih tetap ada orang yang menjajakan dagangannya. Kami pun meluncur di malam yang dingin itu, selesai makan jam sudah menuju pada angka 02:00 WIB. Sepertinya besok akan menjadi hari yang berat, apalagi sudah kami jadwalkan keberangkatan pada jam 06:00 WIB, sudah waktunya menyelesaikan malam dengan istirahat dalam mimpi indahku…

Setelah shalat shubuh motor harus Aku panaskan untuk perjalanan jauh ini, mandi dan berdoa agar selamat di jalan, sudah gak sabaran untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. Laju sepeda motor kami gak terlalu cepat, sambil kejar-kejaran di jalan agar tiba lebih awal. Namun suhu ruang masih sangat dingin dan mentaripun belum menantang hari, dengan mata yang agak mengantuk dan cuaca yang agak mendung kami kedinginan di jalan. Hingga tiba di kawasan Saree (sekitar 90 menit dari Banda Aceh) khaled mengacungkan jari telunjuknya, dalam ketidak-tahuan akan makna jari telunjuk yang diayunkan atas dan bawah itu Aku bertanya-tanya apa gerangan arti dari isyarat bahasa tubuh tersebut. “bang, cari mesjid dulu yok, pengen buang air kecil ni…” “alah mak,… ayoklah sambil ngopi dulu kita, ngantuk ni” tidak lama kemudian kami menemukan sebuah mesjid diantara kios-kios yang menjajakan buah tangan khas Saree yaitu tape dan makanan ringan lainnya, jika Aku pulang dengan angkutan umum, tak pernah lupa untuk membeli makanan di kios-kios tersebut. Di dekat mesjid tersebut sebuah kedai kopi menanti kehadiran kami yang masih dalam keadaan mengantuk sambil istirahat sejenak. “kopi susunya satu bang” pintaku pada pelayan yang seumuran denganku itu, khaled memesan cappuchino panas. “kayaknya perjalanan udah bisa kita lanjutkan dek…” “yok kita balapan lagi bang…”

Perjalanan dimulai kembali dengan kecepatan tinggi hingga azan dzuhur berkumandang kami mulai masuki Matang Glp Dua, bisa kulihat wajah berserinya khaled yang akan bertemu dengan kedua orang tuanya, seakan beban hidup terasa ringan dalam melintasi jalan desa itu. Pancaran garis wajah itu juga Aku rasakan bila tlah memasuki kota Langsa, kerinduan yang selama ini tersirat dalam hati akan segera Aku menemukannya.

Untuk melanjutkan perjalanan ke Langsa Aku memesan tiket pada angkutan umum, ketidak sabaranku tak mampu menahan langkahku untuk bermalam di rumah wawak, “maaf wak, Fuad harus berangkat langsung ke Langsa, mau jumpai Mama. Fuad nitip kereta disini ya wak…” “ya udah kalo gak bermalam, salam aja sama Mama, ayah n adikmu ya…” salam perpisahan dari wawak menambah kerinduanku pada Mama. Selama perjalanan dengan menggunakan L300 itu Aku tertidur sepanjang jalan, maklumlah, dari pagi sampai siang kan Aku kemudikan sepeda motor, ya kecapeanlah…

Tiba di Langsa dalam malam dengan gerimis kecil dan adikku setia menjemputku di simpang biasa. Belum sampai di rumah dia yang cerewet memang sudah banyak bercerita ini dan itu, Aku yang kelelahan hanya meng-iyakan  saja semuanya. Melangkah di rumah dengan mencium tangan kedua orang tuaku yang sangat Aku rindukan dalam perantauanku menuntut ilmu selama di Banda Aceh. Selesai mandi dan makan, Aku berencana untuk istirahat karena seharian melakukan perjalanan. Adikku satu-satunya masih aja setia dengan ceritanya ini-itu hingga larut malam kami saling berbagi cerita. Satu hal yang kini mengherankan diantara kami, dulunya kami gak pernah akur sama sekali, namun sekarang kemana-mana slalu aja berdua selama Aku berada di Langsa, hohoho.. menikmati kebersamaan itu hingga keesokan harinya kami membantu Mama untuk persiapan masak daging megang (maklumlah di rumah kan gak ada anak perempuan).

“abang pigi beli ketupat sana…” pinta Mama padaku, “baiklah ma, tenang. Kasih duit lebih dikit ya..”. dek Ayi lagi ngelap kereta di garasi, “dek, keluarin kereta kita, shopping yokk…” “ayok…cari apa kita bang?” “seperti biasa…cari ketupat, sambil keliling-keliling ngerjain orang jualan daging megang” jawabku. “tutup pintu pagar, tancap gasnya dek…” “ngapain tuh dua-dua pigi beli itu aja pun…” “masih kangen-kangenan ma…kami kan gak bisa terpisahkan, slalu bersama” jawab adikku. Aku pun pergi ke pasar bersama adikku, walaupun pasar adalah tempat yang paling Aku gak suka, ya tak apalah…

Sesampainya di pasar kami berkeliling mencari pesanan Mama, yaitu ketupat, cari dan terus berkeliling. Ntah apa kami keliling-keliling sambil ketawa-ketawa dalam tumpukan manusia yang masyaallah ramenya… “buk, beli ketupatnya 3 ikat, berapa?”

Pulang dari pasar, tiba saatnya bersihkan rumah, adikku yang cabut rumput di halaman depan dan samping, Aku bagian ngelap kaca jendela. Aktifitas di H-1 lebaran atau lebih dikenal dengan meugang cukuplah padat hingga tiada terasa sore pun tiba dan bulan menggantikan matahari. Seperti tahun-tahun sebelumnya tiap malam lebaran Aku dan adikku jalan-jalan keliling kota ikut serta memeriahkan malam takbiran, tapi malam ini hujan turun menghujam bumi dengan lebatnya, “wahhh..gak bisa keluar kita malam ini dek” “iya ya bang”. Kemudian kami menghabiskan waktu di rumah dengan bertakbiran bersama, main game bareng lalu tidur hingga esok pagi tiba.

*to be continued*

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s